Archive for Artikel

Joko Tingkir, Sang Pendeteksi Tsunami

DESKRIPSI JOKO TINGKIR

                               PANDUAN PENGUKURAN DURASI RUPTURE SECARA MANUAL

PaketLengkapPengukuran Durasi Rupture

Softawre Joko Tingkir hasil karya dosen Fisika FMIPA UNESA ini sejak tahun 2012 telah diujicoba secara offline dan sejak pertengahan 2013 telah diujicoba secara real time di Pusat Penelitian dan Pengembangan (PUSLITBANG) BMKG Jakarta. Gambar di atas adalah sampel hasil proses aplikasi real time menggunakan software Joko Tingkir untuk gempa bumi yang terjadi di Irian Jaya pada tanggal 9 Januari 2014. Hasilnya sangat menggembirakan karena sangat jitu dalam mendeteksi apakah suatu gempa bumi berpotensi tsunami atau tidak secara cepat dan lebih akurat. Kriteria tsunami yang digunakan oleh Madlazim, pembuat software Joko Tingkir ini, lebih stabil dibandingkan kriteria tsunami yang selama ini dipakai Ina-TEWS (Indonesian Tsunami Early Warning System) yang sudah diinstal di BMKG sejak 2008. Joko Tingkir akan diterapkan BMKG mulai tahun 2014. Berita selengkapnya bisa dibaca di majalah TEMPO edisi 25 Februari samapi 3 Maret 2013 atau di KORAN TEMPO edisi 25 Februari 2013 atau bisa juga login di website-nya tempo sbb.: http://majalah.tempo.co/kanal/2013/02/24/Sains atau http://koran.tempo.co/kanal/2013/02/25/12/Iptek atau http://m.majalah.tempo.co/kanal/2013/02/24/Sains. Yang paling mudah adalah dengan cara klik link berikut TEMPO_OK.. Berikut file presentasi hasil validasi Joko Tingkir untuk peringatan dini tsunami real time yang dilakukan oleh Tim PUSLITBANG BMKG Pusat Jakarta disajikan pada

In the 3rd International Symposium on Earthquake and Disaster Mitigation (ISEDM)
Yogyakarta, 17-18 December 2013

TRACER STUDY ONLINE ALUMNI DAN PENGGUNA ALUMNI FMIPA UNESA

SELAMAT DATANG DI TRACER STUDY ONLINE ALUMNI DAN PENGGUNA ALUMNI FMIPA UNESA

Kepada Yth. Para Alumni dan Pengguna Alumni FMIPA UNESA,

Tracer study ini dilaksanakan untuk menjaring informasi/masukan dari alumni dan pengguna alumni sebagai salah satu dasar yang sangat penting bagi evaluasi dan pengembangan FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dalam bidang kurikulum, proses pembelajaran, sarana prasarana, dan pelayanan. Data/informasi bersifat rahasia, sehingga tidak akan dipindah tangankan tanpa seijin yang bersangkutan dan semata-mata hanya digunakan untuk pengembangan. Untuk masuk ke sistem kuisioner alumni diperlukan PIN. PIN akan dibagikan oleh tim tracer study masing-masing jurusan/prodi kepada para alumni atau alumni bisa menggunakan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) masing-masing sebagai PIN, tetapi bila menggunakan NIM tidak valid, mohon kesediaan alumni untuk menghubungi Tim Tracer Study FMIPA via sms/telp ke 081230571294 atau kirim email alamat ke m_lazim@fisika.fmipa.unesa.ac.id (untuk sementara). Untuk selanjutnya akan di-handle oleh tim tracer study masing-masing jurusan/prodi). Kami sangat berharap Anda bisa berpartisipasi dalam mengisi kuisioner tracer study ini. Cara Masuk Borang Tracer Study Alumni adalah masukkan PIN pada kotak yang tersedia dan selanjutnya isi kuisioner yang jawabannya sesuai dengan kondisi Anda atau yang Anda alami. Bagi Pengguna Alumni TIDAK memerlukan PIN untuk mengisi kuesioner. Untuk masuk ke dalam sistem Tracer Study (TS) online bagi Alumni masing-masing jurusan/prodi, silahkan klik link berikut
Untuk masuk ke dalam sistem Tracer Study (TS) online bagi Pengguna Alumni masing-masing jurusan/prodi, silahkan klik link berikut
Terima kasih banyak atas partisipasi dari para alumni dan pengguna alumni. Semoga sukses selalu.

                                                                                        Surabaya, 21 September 2013
                                                                                      atas nama Dekan FMIPA UNESA,
                                                                                       Tim Tracer Study FMIPA UNESA
                                                                                                  

Sudahkah UNESA on The Right Track untuk Menuju World Class University?

Oleh: Madlazim

Beberapa waktu lalu Rektor UNESA mencanangkan “UNESA menuju World Class University (WCU)”. Impian tersebut sangat mulia, tetapi harus disertai dengan komitmen yang tinggi untuk menggapainya. Untuk mengetahui apakah UNESA keep on the right track dalam menuju WCU, maka perlu memahami kriteria WCU. Beberapa kriteria world class university diantaranya adalah 40 % staf pengajar bergelar Doktor, publikasi internasional 2 papers/staff/tahun, jumlah mahasiswa pasca 40% dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300/staff/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB/mahasiswa. Kriteria tersebut tentu tidak 100% sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang memperjuangkan anggaran pendidikan yang memadai, terbatasnya kursi bagi mahasiswa dalam negeri yang kemampuan ekonominya rendah, maupun peran pendidikan tinggi dalam menghasilkan iptek yang bermafaat bagi kesejahteraan rakyatnya. Namun ukuran-ukuran tersebut penting sebagai dasar bagi referensi kesejajaran universitas di Indonesia dengan universitas lainnya yang bertaraf internasional ( http://tridoyo.blogspot.com/).

Sudahkah UNESA mengarah ke kriteria WCU? Untuk kriteria 40% staf pengajar bergelar Doktor, pimpinan UNESA sudah on the right track. Kebijakan-kebijakan pimpinan UNESA sudah mengarah ke sana karena sudah mendorong dosenya untuk studi lanjut. Hanya saja belum ada kebijakan pimpinan UNESA yang mendorong para Doktor dan atau profesor UNESA untuk melakukan penelitian yang hasil penelitiannya layak untuk dipublikasi di jurnal internasional yang bereputasi, walaupun sudah ada insentif artikel ilmiah, tetapi sebelum itu harus ada dukungan dari lembaga berupa fasilitas dan dana penelitian tiap Doktor/profesor, tiap tahunnya. Karena seorang Doktor/profesor tidak bisa menulis karya ilmiah yang terbit di jurnal ilmiah internasional yang bereputasi sebelum mereka melakukan penelitian yang bener. Sementara bagi dosen yang berhasil mendapatkan hibah penelitian dari Dikti atau UNESA tidak ada kebijakan dari UNESA tentang kontrol publikasi internasional yang bereputasi. Hal ini berpengaruh besar terhadap perbaikan peringkat UNESA dalam menuju WCU. Untuk kriteria jumlah mahasiswa pasca 40% dari total populasi mahasiswa (student body) saya kira dari segi kuantitas UNESA sudah mendekati, tetapi dari segi kualitas UNESA masih harus berupaya lebih keras lagi. Sebab lulusan pasca UNESA masih belum memiliki sumbangsih yang nyata terhadap karya ilmiah yang dipublikasi di jurnal internasional bereputasi. Kalau dua kriteria ini segera dipenuhi, maka saya yakin peringkat UNESA di kancah internasional akan meningkat. Sedangkan untuk kriteria lain sepertinya UNESA masih jauh dari kriteria WCU tersebut. Hal ini bisa dilihat dari peringkat UNESA di Webometric atau tipe peringkat lainnya apalagi di peringkat SCOPUS. Semoga pimpinan UNESA segera menyadari akan hal ini dan memperbaiki arah jalan yang benar dan lurus menuju WCU supaya tidak KESASAR ke WC-ku dan WC-mu yang bau basin itu. He…..he…….he…….

70% Calon Guru Besar Tidak Lolos

Sumber Berita: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/12/17/208891/70-Calon-Guru-Besar-Tak-Lolos-

SEMARANG – Karena ingin mengejar tunjangan dalam jumlah besar, banyak calon guru besar yang tidak diloloskan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Hal itu karena pelanggaran atau persyaratan tidak terpenuhi.

”Penyebab calon guru besar tidak lolos seleksi bisa karena pelanggaran yang diperbuat, bisa juga karena tidak memenuhi persyaratan yang diajukan Ditjen Dikti,” kata Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Prof Supriadi Rustad dalam seminar nasional ”Peran MIPA dalam Peningkatan Kualitas Hidup dan Pengembangan Pendidikan Karakter” di gedung C7 Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sabtu (15/12).

Dia mengemukakan, dari proses pengajuan calon guru besar setiap bulannya, yakni 20 – 30 berkas, hanya 30% yang lolos dan memenuhi syarat. Sementara 70% tidak lolos sehingga syarat harus  dikembalikan.

Banyak calon guru besar tidak lolos seleksi oleh Ditjen Dikti, karena alasan pelanggaran etika dan profesionalisme, seperti pemalsuan dokumen karya ilmiah. Pemalsuan itu seperti mencantumkan jurnal rakitan, jurnal ”bodong”, artikel sisipan, label akreditasi palsu, nama pengarang sisipan, buku lama sampul baru, dan nama pengarang berbeda.

”Kasus ini berhubungan dengan masalah karakter para pendidik tersebut, karena itu perguruan tinggi harus membangun kembali kejujuran dan kepedulian. Sebab, untuk menjadi perguruan tinggi bermutu dan berkualitas tidak hanya intelektualnya yang dikembangkan, tetapi juga karakter dari semua civitas academicanya,” katanya.

Untuk mengantisipasi dan mengatasi permasalahan tersebut, mulai tahun 2013 Ditjen Dikti akan mengetatkan persyaratan calon guru besar. Misalnya, mewajibkan mereka menulis di jurnal internasional. Sementara bagi guru besar yang ketahuan melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi dengan mencabut jabatan tersebut dan diturunkan menjadi lektor kepala.

Selain Prof Supriadi Rustad, pembicara lain adalah Dekan FMIPA UPI Bandung Prof Dr Asep Kadarohman, Dr Andreas Priyono Budi dari Unnes, dan Dr Fajar Adi Kusumo dari UGM Yogkarta. (K3-37)

Dikti Ancam Tutup S3 yang Tidak Publikasi di Jurnal Internasional

Surat edaran Dikti terkait ancaman tutup S3 bisa diunduh di link berikut Penataan-Program-Doktor
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menutup program studi S3 yang tidak produktif publikasi karya ilmiah di jurnal internasional yang bereputasi. Untuk tahap awal, Dikti akan mengevaluasi kinerja publikasi ilmiah di jurnal internasional untuk program studi S3 di kampus negeri maupun swasta. Program penataan program studi S3 terkait publikasi ilmiah internasional ini tertuang dalam surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud No 1483/E/T/2012. Dalam surat edaran ini, intinya Ditjen Dikti ingin mengevaluasi surat edaran sebelumnya (Nomor 152/E/T/2012) tentang publikasi karya ilmiah mulai jenjang S1, S2, hingga S3. Pada surat edaran Nomor 152/E/T/2012, Ditjen Dikti dengan tegas meminta setiap program studi S3 membuat persyaratan tambahan bagi calon lulusannya. Yaitu setiap mahasiswa yang akan lulus S3 wajib mempublikasikan dulu karya ilmiahnya di jurnal internasional. ’’Surat edaran kami yang baru ini untuk mengevaluasi surat edaran sebelumnya,’’ tutur Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso di sela rapat kerja dengan Komisi X DPR, Rabu (5/12). Dia mengatakan, apakah surat edarannya tentang kewajiban mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional untuk mahasiswa S3 dijalankan perguruan tinggi atau tidak. Memang kelihatannya jika program studi S3 tidak menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional itu merupakan kesalahan mahasiswa sendiri. Namun menurut mantan rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, tetapi sebenarnya itu bukan kesalahan mahasiswa tetapi salah kampusnya. ’’Seharusnya kan kampus membuat kebijakan tegas calon lulusan harus mempublikasikan karya di jurnal internasinal. Jika belum menerbitkan, tidak bisa diluluskan,’’ ucapnya. Dengan kebijakan itu, Djoko yakin mahasiswa program studi S3 akan mengikutinya. Menurut Djoko paling lama tahun 2013 pihaknya akan menerima laporan tentang upaya mahasiswa program S3 mempublikasikan karyanya di jurnal internasional. Dia mengatakan, ada sanksi tegas jika ternyata kampus negeri maupun swasta tidak mengindahkan instruksi publikasi karya ilmiah itu. Sanksi pertama, Ditjen Dikti akan meninjau kembali izin program S3 yang selama 2012 mahasiswa tidak pernah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional. ’’Saya tegaskan, program studi S3 seperti itu tidak layak (untuk diteruskan operasinya),’’ ucap Djoko. Dia mengatakan prodi seperti itu tidak mencerdaskan bangsa, tetapi malah membebani negara. Sanksi kedua, mulai tahun 2013 Ditjen Dikti menyetop pemberian beasiswa program S3 kepada mahasiswa di kampus yang tidak pernah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional. Beasiswa ini akan dialihkan ke kandidat di program S3 yang mahasiswa rajin publikasi karya ilmiah internasional.

Djoko menegaskan alasan mahasiswa program S3 kesulitan mengakses jurnal internasional karena sedikit jumlahnya, tidak tepat. Saat ini jumlah jurnal yang diakui internasional ada 19 ribu lebih judul. Semuanya sudah mendapatkan pengakuan Ditjen Dikti alias bukan abal-abal. Ribuan jurnal internasional itu mencakup bidang ilmu fisika, kesehatan, sosial, dan kehidupan serta bidang ilmu lain. ’’Jadi bukan urusan tidak ada wadahnya. Tetapi mereka (program studi S3) yang tidak mampu,’’ ucapnya. (wan)