..vikilu.de.. Jemand erblickte ihn und rief: Ce Dufresny enfin. Dann http://www.vikilu.de/vikilu/dapoxetine-priligy-kaufen-rezeptfrei.html folgte die hubbub Gruß. Die neue Ecke auf einmal machte seinen Weg seiner Verlobten, der sich erhoben hatte dimpling und ihn Erröten erhalten. Er hielt ihre Hand in seine. Mein lieber Angfele, sagte schnell viagra rezeptfrei bestellen österreich unter http://www.vikilu.de/vikilu/kamagra-kaufen-oberhausen.html seinem http://www.vikilu.de/vikilu/cialis-c20-bestellen.html Atem, diese grausame rezeptfrei cialis 20mg Während des Austausches Begrüßungen P Coic einmal Mott gedreht hatte, und bückte sich ungeschickterweise nahm die seine Farben und viagra generika bester preis Pinsel zu packen.

Archive for July 2013

PENTINGNYA KURIKULUM 2013 (TEMATIK) KEBENCANAAN DI INDONESIA

Oleh: Madlazim

Beberapa kali terjadi bencana di daerah-daerah di Indonesia masyarakat mengalami kepanikan yang luar biasa. Banyak kejadian yang mestinya tidak terjadi, tetapi karena masyarakat terlalu panik, maka kejadian yang memilukan itu terjadi. Sebagai contoh kejadian yang pernah terjadi saat gempa di Sumbermanjing, Kabupaten Malang, sang ayah dalam keadaan panik dan bingung dia bermaksud mengevakuasi anaknya yang masih terjebak dalam rumah. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata, yang dia gendong adalah guling dan bantal, sementara anaknya masih tertinggal dalam rumah yang tergoncang kuat oleh gempa. Demikian juga, saat akan terjadi tsunami di Aceh tahun 2004 dan di Pangandaran tahun 2007. Sebelum ombak gelombang tsunami menerjang, air laut surut. Pada saat air laut surut itu banyak ikan besar yang menggelepar. Para nelayan berebut untuk mendatangi pantai untuk mengambil ikan bahkan masyarakat berbondong ikut mendatangi pantai hanya sekedar untuk menonton ikan-ikan yang menggelepar. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan korban tsunami sangat banyak. Ketidaktahuan tentang kebencanaan juga bisa menyebabkan masyarakat mempercayai rumor, bukan ilmu dan teknologi kebencanaan. Rumor akan terjadi tsunami setelah lima menit terjadi gempa di Yogayakarta tahun 2006 dipercaya oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, sehingga terjadi histeria massa dan chaos yang luar biasa (Jawa Pos, 8 Juli 2013).

Kalau kita bandingkan dengan masyarakat Jepang saat terjadi gempa tanggal 11 Maret 2011, masyarat Jepang sungguh luar biasa tenang, tetapi tetap waspada dalam menghadapi gempa yang berkekuatam 9, 1 SR dan telah menyebabkan tsunami yang memporakporandakan sebagian wilayah Jepang. Pada saat masyarakat yang hendak turun dari hotel yang berlantai 6 untuk menyelamatkan diri dari ancaman gempa dan tsunami, mereka berusaha turun dalam keadaan tetap tenang dan antri secara tertib dan teratur. Ketika para korban bencana antri sup, mereka tetap secara teratur dan saling menghormati secara satu persatu mengambil sup. Tidak ada satupun yang berjubel/berdesak-desakan untuk mendahului yang lain, walaupun sesungguhnya mereka sedang lapar. Sup satu mangkok kecil tentu tidak membuat mereka kenyang, tetapi yang mengherankan tidak seorangpun yang sudah dapat jatah satu mangkok kemudian antri lagi untuk tambah lagi atau mengambilkan untuk yang lain, walaupun itu masih dimungkinkan. Mereka memegang teguh kalau itu dilakukan, maka itu tidak adil.

Dua keadaan masyarakat yang sangat berbeda dalam menyikapi bencana, padahal mereka sama-sama tinggal di negara yang berpotensi bencana besar. Gambaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara Jepang. Untuk itu perlu dimulai penerapan kurikulum kebencanaan bagi anak-anak sekolah. Kalau itu dilakukan, berarti kita menanam investasi besar bagi generasi mendatang. Berikut link tentang PENTINGNYA KURIKULUM KEBENCANAAN DI INDONESIA:

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailopiniindex&kid=7&id=4591