..oberursel.de.. Ich konnte immer das Mädchen, um etwas bitten, wenn ich sah er Babette das Haus mit einem Seufzer Erleichterung verlassen, und für den Rest des Nachmittags komplizierte Berechnungen mit dem Stummel einen Bleistift die Rückseiten alter Umschläge gemacht. Zehn Minuten vor Babette zurück stieß die Umschläge in http://www.oberursel.de/levitra-rezept/ die Tasche und lächelte zufrieden, für eine Feinheit berechnet hatte, wie niedrige Preis könnte Henry Schrimm der Aufkleber zitieren, wie eine Gewinnspanne für Henry verlassen, nachdem seine eigene Provisionen bezahlt wurden. Am darauffolgenden Morgen Sam aufgereiht sich mit mehr als der üblichen Sorgfalt, und pünktlich um 10.00 Uhr ergriff seinen Stock und ging auf die Wo wollen Sie hin? Babette gefordert. Ich glaube, ich würde noch cialis 5mg kaufen österreich einen kleinen Spaziergang in den Park nehmen, sagte seine Tochter in zitternden Tönen, und Babette sah ihn etwas Des Weiteren sagte kühn, wenn man mit Ihnen kommen wollen, können das Recht so, wie Sie in letzter Zeit gelb suchen, Babette, einen kleinen Spaziergang in der Park nicht Sie keinen Schaden. Sam gut wusste, dass seine Tochter war, die Praxis Gesichtsmassage süchtig, und war mir sicher, dass jeder Verweis Gelb treiben würde Babette ihr Frisiertisch und halten sie sicher levitra generika rezeptfrei kaufen mit Spiegel beschäftigt Sie nicht lange draußen bleiben, sagte sie, und Sam nickte.

PENTINGNYA KURIKULUM 2013 (TEMATIK) KEBENCANAAN DI INDONESIA

Oleh: Madlazim

Beberapa kali terjadi bencana di daerah-daerah di Indonesia masyarakat mengalami kepanikan yang luar biasa. Banyak kejadian yang mestinya tidak terjadi, tetapi karena masyarakat terlalu panik, maka kejadian yang memilukan itu terjadi. Sebagai contoh kejadian yang pernah terjadi saat gempa di Sumbermanjing, Kabupaten Malang, sang ayah dalam keadaan panik dan bingung dia bermaksud mengevakuasi anaknya yang masih terjebak dalam rumah. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata, yang dia gendong adalah guling dan bantal, sementara anaknya masih tertinggal dalam rumah yang tergoncang kuat oleh gempa. Demikian juga, saat akan terjadi tsunami di Aceh tahun 2004 dan di Pangandaran tahun 2007. Sebelum ombak gelombang tsunami menerjang, air laut surut. Pada saat air laut surut itu banyak ikan besar yang menggelepar. Para nelayan berebut untuk mendatangi pantai untuk mengambil ikan bahkan masyarakat berbondong ikut mendatangi pantai hanya sekedar untuk menonton ikan-ikan yang menggelepar. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan korban tsunami sangat banyak. Ketidaktahuan tentang kebencanaan juga bisa menyebabkan masyarakat mempercayai rumor, bukan ilmu dan teknologi kebencanaan. Rumor akan terjadi tsunami setelah lima menit terjadi gempa di Yogayakarta tahun 2006 dipercaya oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, sehingga terjadi histeria massa dan chaos yang luar biasa (Jawa Pos, 8 Juli 2013).

Kalau kita bandingkan dengan masyarakat Jepang saat terjadi gempa tanggal 11 Maret 2011, masyarat Jepang sungguh luar biasa tenang, tetapi tetap waspada dalam menghadapi gempa yang berkekuatam 9, 1 SR dan telah menyebabkan tsunami yang memporakporandakan sebagian wilayah Jepang. Pada saat masyarakat yang hendak turun dari hotel yang berlantai 6 untuk menyelamatkan diri dari ancaman gempa dan tsunami, mereka berusaha turun dalam keadaan tetap tenang dan antri secara tertib dan teratur. Ketika para korban bencana antri sup, mereka tetap secara teratur dan saling menghormati secara satu persatu mengambil sup. Tidak ada satupun yang berjubel/berdesak-desakan untuk mendahului yang lain, walaupun sesungguhnya mereka sedang lapar. Sup satu mangkok kecil tentu tidak membuat mereka kenyang, tetapi yang mengherankan tidak seorangpun yang sudah dapat jatah satu mangkok kemudian antri lagi untuk tambah lagi atau mengambilkan untuk yang lain, walaupun itu masih dimungkinkan. Mereka memegang teguh kalau itu dilakukan, maka itu tidak adil.

Dua keadaan masyarakat yang sangat berbeda dalam menyikapi bencana, padahal mereka sama-sama tinggal di negara yang berpotensi bencana besar. Gambaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara Jepang. Untuk itu perlu dimulai penerapan kurikulum kebencanaan bagi anak-anak sekolah. Kalau itu dilakukan, berarti kita menanam investasi besar bagi generasi mendatang. Berikut link tentang PENTINGNYA KURIKULUM KEBENCANAAN DI INDONESIA:

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailopiniindex&kid=7&id=4591

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*